|
|
BADAN METEOROLOGI DAN GEOFISIKA |
|
|
Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Indonesia |
||
|
|
Kalibrasi Umumnya, terdapat dua macam alat bantu pembuat keputusan dalam pengelolaan kebakaran: yang pertama adalah sebuat model prediktif untuk mengidentifikasi potensi masalah kebakaran sebelum terjadinya, dan yang kedua adalah rencana kerja operasional untuk mengurangi timbulnya dan mitigasi keadaan akibat kebakaran serius. Model prediktif diperoleh melalui Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran yang memberikan cara kuantitatif untuk mengestimasi aspek fisik kebakaran (contohnya, konsumsi bahan bakar, tingkat pelepasan emisi). Rencana aksi operasional menghubungkan keputusan-keputusan pengelolaan kebakaran ke dalam model prediktif. Tingkat kegiatan operasional yang berbeda dalam sebuah rencana aksi (contohnya, mengurangi kebakaran yang disengaja di daerah-daerah tertenti, membatasi jenis bahan bakar yang sedang terbakar, meningkatkan besarnya daerah terbakar yang dibatasi, dan lain sebagainya) secara langsung berkaitan dengan serangkaian ambang batas kritis yang diidentifikasi dalam Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran. Proyek-proyek kalibrasi dirancang untuk menyesuaikan Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran Kanada ke iklim dan bahan bakar tropis. Tujuan akhirnya adalah sistem operasional yang dapat memprediksi potensi kebakaran dan masalah asap, dan termasuk di dalamnya rekomendasi kebijakan dan respon operasional. |